Sabtu, 24 Januari 2009

Mungkin saat kalian membaca judul tulisan ini, kalian akan berpikir yang tidak-tidak. Seperti


"wah kasihan ya Caca waktu kecil nggak pernah dikasih makan, tapi kok sekarang gendut ya?"

atau


"ya ampun Caca, kamu pernah mengalami fase 'kecil' ya?"

atau malah

"ternyata benar dugaanku, Caca lahir dari pantat."

Namun yang dimaksud kurang bahagia adalah keberadaan Raras Cynanthia sebagai satu-satunya saudara.Kalau kutulis semua dosanya padaku, mungkin 100 notes pun tak cukup.
Pikirkanlah.


Raras Cynanthia yang sudah hampir menginjak 19 tahun pun sifatnya seperti tikus tanah yang kebelet beol gara-gara habis minum cat rambut.

Bagaimana saat dia berumur 5-7 tahun?

Barusan aku menyadari bahwa si Caca kecil adalah seorang yang sangat hebat, mampu menempuh cobaan yang sangat berat.


Raras Cynanthia sewaktu kecil adalah balita yang sangat brutal, gendut, suka makan indomie dan punya cita-cita menjadi petinju (ini serius! tanya saja ke dia).
Kalau memang ada mesin waktu (menurut ilmu fisika ada kemungkinan terjadi lo), aku akan pergi ke masa lalu dan mengikat RCC (Raras Cynanthia Cilik) di tiang bendera dan kugelitikin keteknya sampe mampus.


Mungkin kalian mulai berpikir "nggak segitunya kali, masa RCC jahat banget sih?"Kalian BELUM tahu.

Saat aku masih berumur sekitar 1 tahun, dan RCC 5 tahun, RCC merasa iri karena baby-sitternya mengurusi RAC (Radhyaksa Ardaya Cilik). Entah apa yangmembuat RCC begitu tega kepada RAC, sehingga saat sang Baby-sitter pergi, RCC membekep kepala RAC dengan bantal. Dengan niat membunuh RAC. Untung sang Baby-sitter datang dan mencegah tindakan itu.Kalau tidak, mungkin Raras Cynanthia sekarang sudah menjadi bos sebuah organisasi mafia dengan prestasi "sudah membunuh saat berumur 5 tahun"

Pernah juga saat RAC masih berumur sama, RAC melihat HIT dalam bentuk refill.Jadi bentuknya seperti sabun cair isi ulang. Dan HIT tersebut dalam keadaan terbuka.Dan ada gelas di sebelah HIT tersebut.
Mungkin karena memang bakat jadi penenggak alkohol tingkat celeng bila sudah dewasa,RAC menuangkannya. Dan dengan bodohnya RAC meminumnya.RCC yang melihat seluruh kejadian tersebut tampaknya memang menunggu sampai sangadik meminum obat nyamuk tersebut. Barulah RCC berteriak kepada sang Nyokap.
Untung saja RCC masih memberitahu sang Nyokap. Mungkin karena RCC belum mau kehilanganadiknya. Atau kemungkinan lainnya (aku percaya dengan yang ini) RCC berpikir"masa akhirnya adikku mati karena HIT? kalau memang dia harus mati, akulah yang harus membunuhnya."


Dan senioritas itu pun berlanjut sampai RAC berumur sekitar 4 tahun, dan RCC 9 tahun.Karena RAC dibesarkan dengan buku komik dan film kartun, RAC saat itu adalah a big fans of Sailor Venus.
Ya, si rambut kuning dari Sailor moon.

Dan dengan kelicikan RCC yang masih berlanjut sampai sekarang, RCC memberitahu pada RAC bahwa ia kenal dekat dengan pasukan Sailor Moon. Dan bila ingin mengirim surat pada sailor Venus, kirimlah ke sebuah alamat yang diberikan RCC. RAC pun mengirimkan surat cinta (bodoh) ke alamat itu.
Mau tahu bagaimana RAC mengirimkannya? Kan tidak mungkin ada balita bau koteks bernafsu birahi pergi ke kantor pos minta kirimin surat buat Sailor Venus.

Jawabannya adalah dengan memasukkannya ke KOTAK POS. Betul, KOTAK POS yang biasanya digunakan umat Manusia untuk menerima surat namun diselewengkan penggunaannya oleh balita mesum itu.


how fool you are, RAC. Poor you.


Dan jawaban dari sailor venus yang tidak lain adalah RCC adalah :

" Halo caca. kalo kamu pengen ketemu sama aku siapin uang 5 ribu rupiah di kotak pos. makasih caca!"

Dan hal tersebut dilakukan oleh RAC. Uang 5 ribu rupiah yang disertai harapan balita imbisil untukbisa bertemu sailor venus tersebut berakhir di tangan penjual gulali.
Memang, kejahatan RCC tidak akan berhasil tanpa kepolosan (baca: kegoblokan) RAC.

Namun bukankah menipu balita penuh harapan adalah dosa besar?

Kesimpulan: Raras Cynanthia Cilik memang bisa dikategorikan sebagai balita gendeng dan diprediksikan dapat bergaul baik dengan sekawanan onta Arab.
Aku sempat tersedih sesaat saat aku membeli suzuki skywave pada januari 2008 kemarin. Karena itu berarti aku telah menyerahkan suzuki shogunku ke tangan supirku secara tidak langsung.
Sungguh banyak kenanganku dengan shogun tersebut.

Semua dimulai dari kekagumanku yang masih belum puber terhadap motor saat masih kelas 5. Kemudian aku bertanya kepada sang bokap."pa, kalo aku rangking 1-3 aku dibeliin motor ya?"

"ya" jawabnya dengan nada tanya-apa-sih-kamu-papa-lagi-pingin-beol-ni.

Mulutmu, buayamu.

Maka, sang Caca cilik saat itu berjuang dengan sangat keras agar bisa mendapatkan motor. Caca cilik sangat termotivasi karena membayangkan bagaimana ia akan membonceng perempuan yang ia suka, yang akan terlihat seperti gajah sirkus nyulik sandera minta ditebus irex.

Hari Rapotan

Ada nama Radhyaksa Ardaya di papan tulis, nomor dua dari atas.

Caca kecil:(tersenyum licik)
Bo-Nyok:(masih nyari, mungkin mereka nyari dari bawah)
Caca kecil:(masih tersenyum)
Bo-Nyok:(mulai cemas jangan-jangan anaknya tidak dimasukkan daftar gara-gara suka nyodomi temennya)
Caca kecil: (tidak sabar, akhirnya teriak) ma, aku rangking dua!!
Bokap: (mukanya pucat, pengen garuk-garuk pantat)

Yakk, maka akhirnya dibelilah suzuki shogun 125 cc keluaran 2005 dengan striping biru-putih tersebut.Maka, aku minta sopirku saat itu mengajariku menyetir motor.Dan bokaku menyuruhku menggunakan helm FULL FACE saat berlatih di lapangan sebelah rumah.

Ridicullous.

Aku pernah, saat latihan mengganti gigi 1 ke 2 dengan gas yang masih menyala.

Dan aku HAMPIR terjatuh.

Alhamdulillah aku belum pernah terjatuh di pergelatanku di dunia motor. Sejak saat itu sampai kelas 1 smp aku tidak pernah mengganti gigi lebih dari netral ke 1 dan 1 ke netral.

Trauma yang goblok.
Dan rekorku, kecepatan 50 km/jam dengan gigi 1.

Shogunku ini menjadi motor pertama yang kugunakan untuk melintasi jalan raya.Sensasi yang kuingin-rasakan dari dulu. Rasanya seperti menguasai seluruh dunia. Seperti meraih cita-cita setinggi langit. Pokoknya seru.

Shogunku ini juga sudah seperti adikku. Lebih kusayang daripada kedua belahan pantatku. Namun, karena salah perawatan oleh sopir dan pembokat, shogunku telah menjelma sebagai salah satu motor paling tidak enak dikendarai di bumi ini.

Pernah, saat temanku meminjam motorku, yang sudah kucegah namun dia masih maksa, dia (harapannya) akan mengikuti jalan dengan berbelok ke kiri.
Namun shogun berkata lain. Dia menabrak pohon yang ada di ujung jalan karena remnya blong.

Shogun juga merupakan saksi kebiadabanku dalam membawa motor. Saat pulang dari sepakbola, aku membonceng dua orang teman dengan brutalnya pulang.Rencananya teman-temanku mau nginep di rumahku. Berhubung hujan, kita pakai payung. Namun ada jalan dimana jalan tersebut banjir kira-kira sedikit di atas mata kaki. Hasilnya, kita sampai rumah dengan sandal dan payung hilang karena angin dan banjir.

Hingga akhirnya seluruh kenangan tersebut harus dilupakan bersamaan dengan shogunku yang dibawa pulang sopirku setiap malam.
Namun, hingga saat ini aku masih perhatian dengan shogunku walaupun harus terbagi dengan si skywave.
Misalnya, saat malam aku menemukan supirku sedang tidak membawa shogun. Shogun terletak di luar garasi. Aku pasti akan memasukkan shogun tersebut ke garasi.

My heart will go on, shogun.
Sebelumnya, aku mau memperingatkan kalian, notes ini mengandung kata-kata yang tidak berprike-gurules-an.

Dimohon yang memiliki guru les tetap menjalankan lesnya masing-masing walaupun telah membaca notes ini.

Dan jangan ada yang menunjukkan notes ini ke asosiasi guru les indonesia (emang ada?).

Baik. pada suatu hari, aku sedang membaca buku komik dengan posisi babi di teras belakang rumahku. Kemudian pembantuku memberitahuku,

"mas, ada yang cari!"
"siapa?"
"guru les."

Firasatku udah buruk, karena aku emang nggak ada les sore itu. Karena aku orangnya Baik n cool (ehem.) Kusambut saja deh.

Di ruang tamu, sudah duduk lelaki setengah baya pake seragam coklat-coklat ala guru pns. Melihatku, dia langsung berdiri. Dia tinggi, walaupun masih jauh dibanding aku. Mungkin tingginya sekitar 175 cm.

Aku pun langsung memperkenalkan diri, "caca".

Mukanya tampak agak kaget. mungkin karena baru pertama ngeliat anak cowok tinggi gede namanya imut kayak caca.
"nama saya justin (nama samaran, yaiyalah! disamarkan agar dia masih bisa mendapatkan jatah pensiun), kamu anaknya bu dina kan?".

Aku sempat berpikir untuk berbohong dan bilang "bukan, nama ibu saya joko!" namun berhubung dosaku sudah terlalu banyak, aku membatalkannya.

"ya." jawabku pasrah.

"saya kemarin ditelpon ibu disuruh ngeles-in kamu hari ini juga, tapi kan harus ngomong-ngomong dulu.harus kenalan, negosiasi gaji(dasar mata duitan), dan lain lain.ibu dimana?"

"ibu sedang ada urusan di jakarta." kebetulan saat itu ibuku memang sedang ada kerjaan di luar kota."oh begitu.kamu beruntung bisa dapat saya. Saya terkenal di jogja sebagai guru high class.saya pernah mengajar guru-guru di kalimantan selama 10 tahun."

"Aku nggak tanya kok pak" kataku dalam hati.

"bapak ngajar pelajaran apa?"

"apa saja bisa. Saya kan guru profesional."

Krik.

" bisa saya lihat rapotnya?"
deg. setelah kuberi rapotku, dia bilang

"doh doh, matematikamu jelek ya?"
Aku mulai menyadari dia tipe guru les yang menyebalkan.

Tak lama kemudian, dia berbicara pelan seolah bergumam,

"fisikanya juga. kamu bisa bahasa inggris? Nilaimu 90. Can you speak english?".
"yes i can."
"where did you born?"
"jakarta, 22 september 1994."
"ooh. Have you a sister?"

Dragonohmygod fleamepret (baca: astaganaga kutukupret)

have you a sister? krik.Wat is det?
Haven't heard of it before.
Jadi segini doang bahasa inggrisnya mr. Justin almighty?

"yes i have a sister". Jawabku sambil menahan tawa.

"kriing!" hp-ku berbunyi. Walaupun bunyinya sebenarnya tidak "kriing".

kulihat hpku.

Mom calling


Haa.she's the one who responsible for this stuff.

"halo, ma, ada pak justin dan blablabla" .
Kuceritakan semuanya.

"ooh, bilang ke pak justin, ndak jadi,udah dapet yang lain. soalnya dia mama hubungin kamis sampai minggu nggak ngabari balik."


Krik.

*based on true story

Selasa, 20 Januari 2009

Finally. My own blog.

Heloo.
my name is radhyaksa ardaya . call me caca.
From now on, i'll be writing in this space.
see ya later on!