Sabtu, 24 Januari 2009

Aku sempat tersedih sesaat saat aku membeli suzuki skywave pada januari 2008 kemarin. Karena itu berarti aku telah menyerahkan suzuki shogunku ke tangan supirku secara tidak langsung.
Sungguh banyak kenanganku dengan shogun tersebut.

Semua dimulai dari kekagumanku yang masih belum puber terhadap motor saat masih kelas 5. Kemudian aku bertanya kepada sang bokap."pa, kalo aku rangking 1-3 aku dibeliin motor ya?"

"ya" jawabnya dengan nada tanya-apa-sih-kamu-papa-lagi-pingin-beol-ni.

Mulutmu, buayamu.

Maka, sang Caca cilik saat itu berjuang dengan sangat keras agar bisa mendapatkan motor. Caca cilik sangat termotivasi karena membayangkan bagaimana ia akan membonceng perempuan yang ia suka, yang akan terlihat seperti gajah sirkus nyulik sandera minta ditebus irex.

Hari Rapotan

Ada nama Radhyaksa Ardaya di papan tulis, nomor dua dari atas.

Caca kecil:(tersenyum licik)
Bo-Nyok:(masih nyari, mungkin mereka nyari dari bawah)
Caca kecil:(masih tersenyum)
Bo-Nyok:(mulai cemas jangan-jangan anaknya tidak dimasukkan daftar gara-gara suka nyodomi temennya)
Caca kecil: (tidak sabar, akhirnya teriak) ma, aku rangking dua!!
Bokap: (mukanya pucat, pengen garuk-garuk pantat)

Yakk, maka akhirnya dibelilah suzuki shogun 125 cc keluaran 2005 dengan striping biru-putih tersebut.Maka, aku minta sopirku saat itu mengajariku menyetir motor.Dan bokaku menyuruhku menggunakan helm FULL FACE saat berlatih di lapangan sebelah rumah.

Ridicullous.

Aku pernah, saat latihan mengganti gigi 1 ke 2 dengan gas yang masih menyala.

Dan aku HAMPIR terjatuh.

Alhamdulillah aku belum pernah terjatuh di pergelatanku di dunia motor. Sejak saat itu sampai kelas 1 smp aku tidak pernah mengganti gigi lebih dari netral ke 1 dan 1 ke netral.

Trauma yang goblok.
Dan rekorku, kecepatan 50 km/jam dengan gigi 1.

Shogunku ini menjadi motor pertama yang kugunakan untuk melintasi jalan raya.Sensasi yang kuingin-rasakan dari dulu. Rasanya seperti menguasai seluruh dunia. Seperti meraih cita-cita setinggi langit. Pokoknya seru.

Shogunku ini juga sudah seperti adikku. Lebih kusayang daripada kedua belahan pantatku. Namun, karena salah perawatan oleh sopir dan pembokat, shogunku telah menjelma sebagai salah satu motor paling tidak enak dikendarai di bumi ini.

Pernah, saat temanku meminjam motorku, yang sudah kucegah namun dia masih maksa, dia (harapannya) akan mengikuti jalan dengan berbelok ke kiri.
Namun shogun berkata lain. Dia menabrak pohon yang ada di ujung jalan karena remnya blong.

Shogun juga merupakan saksi kebiadabanku dalam membawa motor. Saat pulang dari sepakbola, aku membonceng dua orang teman dengan brutalnya pulang.Rencananya teman-temanku mau nginep di rumahku. Berhubung hujan, kita pakai payung. Namun ada jalan dimana jalan tersebut banjir kira-kira sedikit di atas mata kaki. Hasilnya, kita sampai rumah dengan sandal dan payung hilang karena angin dan banjir.

Hingga akhirnya seluruh kenangan tersebut harus dilupakan bersamaan dengan shogunku yang dibawa pulang sopirku setiap malam.
Namun, hingga saat ini aku masih perhatian dengan shogunku walaupun harus terbagi dengan si skywave.
Misalnya, saat malam aku menemukan supirku sedang tidak membawa shogun. Shogun terletak di luar garasi. Aku pasti akan memasukkan shogun tersebut ke garasi.

My heart will go on, shogun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar